Umur dua bulan , orang tua saya pindah dari Sukamenanti ( Sumbar ) ke Medan, karena Papa diminta untuk tidak jauh-jauh dari Ompung ( Kakek , ada di P.Siantar ). Papa adalah anak laki-laki satu-satunya dalam beraudara, adi Papa ada tiga perempuan.

Ada dua bulan di Medan Papa ditugaskan di salah kota kecil di Kab.Asahan yakni Kota Kisaran sekitar Tahun 1962 waktu itu, jadi kota itu sangat sederhana sekali.

Papa dan Mama hidupnya susah sekali ( Senin – Kamis ) sehingga Mama akhirnya turut membantu Papa untuk menambah penghasilan, Mama belajar membuat kasur yang saat itu harus ditusuki benang dan diikat satu persatu.Pekerjaan itu dilakukan malam hari, siang hari  Mama menjadi Petani sawah.

Usia delapan ( Kls 2 SD saat itu ) tahun , saya masih ingat saat  makan pagi ( Saat itu saya sudah punya adik  dua perempuan ) Mama , Papa hanya makan jagung dicampur kelapa parut sedangkan kamia nak-anaknya makan nasi dicampur  jagung dan kelapa parut itu tadi.  Hal ini berlangsung hampir enam bulan.

Sejalan waktu, Mama sudah punya sawah lumayan luas di dua tempat sedangkan Papa harus meninggalkan kami serumah karena tempat kerjaan Papa jauh dari rumah , tempat itu ditempuh dengan bersepeda sejauh 27 km, jadi Papa harus mondok di tempat kerjaannya dan pulang ke rumah hanya seminggu sekali saat hari Sabtu. Praktis kami anak-anaknya kurang kasih sayang Papa, kalau Papa di rumah hanya tau marah jarang kami berkumpul bersendau-hurau. Pandangan-pandangan juga jarang disampaikan Papa. Setiap hari Mama hanya ke  sawah, kadang kami juga anak-anaknya ikut membantu Mama di sawah. Tidak hanya itu, malam juga ikut membantu Mama membuat kasur tersebut.

Saya ingat betul Mama sungguh bertanggungjawab kepada anak-anaknya, kami gak pernah Mama mengeluh tentang makan kami, Mam pintar menghemat uang, kamianak-anaknya tak pernah kelaparan walaupun 4 sehat 5 sempurna jarang kami dapatkan.

Mama pernah cerita pada saat usia dua tahun , adik saya no 2 pernah sekarat nyawanya di ujung tanduk, Tuhan masing sayang kepada orang tua saya , adik saya semakin membaik, adik saya sakit karena kurang sehat alias kurang gizi.

Saat kami anak-anak Mama dan Papa hanya menanamkan ajaran agama yang kuat,  hingga saat ini adi-adik saya agamnya sungguh dapat diandalkan. Tentang pillihan hidup , orang tua hanya bilang jadi pegawai  sipil itu enak, tapi saat itu  sudah dapt menganalisis, orang tua bicara seperti itu, kenyataannya Papa saat itu masih susah, wak gak benar ini demikian pendapat saya saat itu.

Mengenai filosofi dan ketrampilan apa yang akan kami capai orang tua tak membicarakannya, hanya saja kami diminta harus sekolah setinggi-tingginya.Semasa anak-anak kami tak pernah diajak orang tua, nonton di bioskop, makan bareng di luar, acara bersama  keluar seperti itu.

Tak terasa waktu berjalan adik saya sudah lima orang , semuanya perempuan hanya saya saja yang laki sebagai anak pertama lagi. Tanggung jawab saya diberikan Mama kepada saya adalh meberisin rumah dan menjaga adik-adik serta memasak nasi, memasak air minum untuk santap malam, lauk dan sayur Mama yang masak setelah pulang dari sawah. Papa juga masih mondok dekat pekerjaannya di air joman dekat Tanjung balai Asahan.

Saat ini Mama sudah punya sawah lumayan luas, hanya satu tempat yang Mama kelola sedangkan lainnya disewakan kepada orang lain, dengan perjanjian bayar pakai padi sekian karung.

Saya termasuk anak yang pintar di sekolah ( SD ), dulu namanya pintar berhitung sekarang Matematika, wah saya paling suka pelajarannya, karena Gurunya ( Batak juga ) pandai mengajar, menarik bagi saya. Semasa sekolah di SD yang paling saya takuti adalah terlambat masuk, karena anak yang terlambat tugasnya menyapu halaman sekolah depan dan belakang, capek deh rasanya kalau sudah selesai…

Walaupun saya sekolah SD Negeri, disiplinnya tak kalah dengan sekolah lainnya yang ada di sekitar Sentang Pondok. Saya masih ingat waktu itu kepala sekolahnya Pak Karo-Karo, disiplinnya bukan main, saya sudah kelas enam, guru kelasnya Bp.Hasan ( Terima kasih Bapak Ibu yang sudah mendidik saya ).

Waktu SD Kelas enam , kadang kami suka juga bolos sekolah. Kamiyang bolos tidak hanya laki-laki tetapi teman perempuan juga, kami semua bermain-main di pohon rambung ( Pohon karet ) yang jauh letaknya dari sekolah, ( Kisaran terkenal dengan pohon karetnya juga ) kadang juga bermain di kali yang ada, semuanya kami lalui dengan senang laki perempuan berbaur tanpa ada   yang malu ( sungguh anak-anak ) walapun perempuannya saat itu payudaranya kelihatan mulai tumbuh. Saat pulang sekolah kamipun pulang kerumah masing-masing.

Keesokan harinya, kami yang bolos itu mendapat hukuman dari seklah oleh guru kelasnya masing, yakni membersihkan ruangan kelasnya masing-masing setelah pulang sekolah selama seminggu, orang tuanya tidak ada yang komplain. Dulu sekolah dan guru benar-benar dihormati oleh orang tua, jadi tidak ada yang macam-macam.

Demikian dulu ceritanya ya…!!! Kita sambung lagi di cerita selanjutnya.

Advertisements